Click Here For Free Blog Templates!!!
Blogaholic Designs
Rabu, 02 Oktober 2013

Lawan Obesitas dengan Bergerak

Obesitas muncul akibat jumlah energi yang masuk dari konsumsi makanan atau minuman banyak, tetapi tidak diimbangi dengan aktivitas fisik yang cukup. Di Indonesia angka obesitas pada anak usia di bawah lima tahun ( balita ) 2,3 persen (  Depkes, 2003 ). Data survei kesehatan rumah tangga menunjukkan angka overweight dan obesitas pada penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas, masing-masing adalah 17,5 persen dan 3,1 persen. Ini menunjukkan masalah obesitas hampir terjadi disemua kelompok umur.
Obesitas pada anak
                Kebiasaan makan sambil nonton televisi atau main game dapat memicu obesitas. Riset Dietz  dan Gortmaker ( 1985 ) emngungkapkan, adanya hubungan positif antara jumlah waktu menonton televisi dengan frekuensi makan. Saat
menonton televisi anak tidak hanya menikmati waktu program intinya, tetapi juga terkondisi untuk menerima iklan makanan. Anak usia lima tahun juga banyak yang betah duduk manis selama berjam-jam di depan komputer dan bermain game konsol. Berbeda dengan ank-anak zaman dulu yang bermain petak umpet. Tidak heran banyak anak-anak zaman sekarang mudah mengalami obesitas.
Sesungguhnya, anak-anak boleh saja mengonsumsi makanan cepat saji, aneka snack ataupun minuman ringan. Namun jumlah konsumsinya per hari perlu dikendalikan dan diimbangi dengan aktivitas fisik. Penelitian National Obesity Forum menunjukkan anak-anak yang kegemukan memiliki tingkat kebahagian, kepuasan, dan kepercayaan diri lebih rendah dibanding dengan ank yang sehat dan langsing.
Obesitas pada orang dewasa
                Obesitas tidak hanya terjadi pada anak-anak tetapi lebih banyak lagi pada usia dewasa. Pada laju dewasa metabolisme tubuh telah melambat dan efisiensinya menurun. Itulah yang memicu obesitas di atas usia 35 tahun. Jika konsumsi energi berlebihan, energi akan disimpan dalam tubuh sebagian dalam bentuk trigliserida di dalam jaringan lemak ( adiposa ) dan sebagian kecil berupa glikogen di dalam hati dan otot. Timbunan lemak tersebut semakin lama semakin menumpuk dan menyebabkan kegemukan. National Obesity Forum menyatakan , kegemukan bertanggung jawab atas 30.000 lebih angka kematian per tahun di Amerika.
                Dampak parahnya kondisi kegemukan adalah obesitas. Obesitas merupakan gangguan kesehatan kompleks karne melibatkan interaksi dari beberapa faktor resiko, yaitu kelebihan makanan , kurang aktivitas fisik atau olahraga, dan genetik. Berdasrkan presentase kelebihan berat badan terhadap berat badan ideal, obesitas digolongkan menjadi obesitas ringan ( 20-40 persen ), obesitas sedang ( kelebihan 41-100 persen ), serta obesitas berat ( kelebihan di atas 100 persen ).
Kandungan Energi
                Faktor lain yang juga perlu diperhatikan adalah kandungan energi atau kalori dari makanan dan minuman yang kita konsumsi. Menurut National Labelling and Education Act ( NLEA ) dari Codex Alimentarius, bahan makanan atau minuman yang disebutberenergi tinggi jika kandungan energi minimum 300 kkal per takaran saji. Makanan dengan energi kurang atau sama dengan 40 kkal per takaran saji dikategorikan sebagai makanan tanpa energi. Sebgai contoh satu kaleng coca-cola ( 250 ml ) yang mengandung 100 kkal, sesuai dengan ketentuan NLEA, tidak termasuk makanan berenergi tinggi karna kandungan energinya kurang dari 300 kkal per takaran saji.
Bergerak untuk membakar kalori
                Orang sering melupakan aktivitas tubuh untuk membakar kalori. Itulah sebabnya ketika berjalan di treadmil atau olahraga di atas sepeda statis, aktivitas sering kali dihitung dari beberapa banyak kalori yang terbakar. Akhirnya, kita dapat menikmati makanan dan minuman favorit selama didukung dengan kombinasi yang seimbang, wajar dan dilengkapi dengan aktivitas fisik yang cukup. Inilah inti dari penerapan gaya hidup yang aktif dan sehat.

Prof.Dr.Ir.Made Astawan MS


Pakar Teknologi Pangan

0 komentar:

Posting Komentar