Obesitas muncul akibat jumlah energi
yang masuk dari konsumsi makanan atau minuman banyak, tetapi tidak diimbangi
dengan aktivitas fisik yang cukup. Di Indonesia angka obesitas pada anak
usia di bawah lima tahun ( balita ) 2,3 persen ( Depkes, 2003 ). Data survei kesehatan rumah
tangga menunjukkan angka overweight dan obesitas pada penduduk Indonesia usia
15 tahun ke atas, masing-masing adalah 17,5 persen dan 3,1 persen. Ini menunjukkan
masalah obesitas hampir terjadi disemua kelompok umur.
Obesitas pada anak
Kebiasaan makan
sambil nonton televisi atau main game dapat memicu obesitas. Riset Dietz dan Gortmaker ( 1985 ) emngungkapkan, adanya hubungan
positif antara jumlah waktu menonton televisi dengan frekuensi makan. Saat
menonton
televisi anak tidak hanya menikmati waktu program intinya, tetapi juga
terkondisi untuk menerima iklan makanan. Anak usia lima tahun juga banyak yang
betah duduk manis selama berjam-jam di depan komputer dan bermain game konsol. Berbeda
dengan ank-anak zaman dulu yang bermain petak umpet. Tidak heran banyak anak-anak
zaman sekarang mudah mengalami obesitas.
Sesungguhnya, anak-anak boleh saja
mengonsumsi makanan cepat saji, aneka snack ataupun minuman ringan. Namun jumlah
konsumsinya per hari perlu dikendalikan dan diimbangi dengan aktivitas fisik. Penelitian
National Obesity Forum menunjukkan anak-anak yang kegemukan memiliki tingkat
kebahagian, kepuasan, dan kepercayaan diri lebih rendah dibanding dengan ank
yang sehat dan langsing.
Obesitas
pada orang dewasa
Obesitas tidak hanya terjadi
pada anak-anak tetapi lebih banyak lagi pada usia dewasa. Pada laju dewasa
metabolisme tubuh telah melambat dan efisiensinya menurun. Itulah yang memicu
obesitas di atas usia 35 tahun. Jika konsumsi energi berlebihan, energi akan
disimpan dalam tubuh sebagian dalam bentuk trigliserida di dalam jaringan lemak
( adiposa ) dan sebagian kecil berupa glikogen di dalam hati dan otot. Timbunan
lemak tersebut semakin lama semakin menumpuk dan menyebabkan kegemukan. National
Obesity Forum menyatakan , kegemukan bertanggung jawab atas 30.000 lebih angka
kematian per tahun di Amerika.
Dampak parahnya kondisi
kegemukan adalah obesitas. Obesitas merupakan gangguan kesehatan kompleks karne
melibatkan interaksi dari beberapa faktor resiko, yaitu kelebihan makanan ,
kurang aktivitas fisik atau olahraga, dan genetik. Berdasrkan presentase
kelebihan berat badan terhadap berat badan ideal, obesitas digolongkan menjadi
obesitas ringan ( 20-40 persen ), obesitas sedang ( kelebihan 41-100 persen ), serta
obesitas berat ( kelebihan di atas 100 persen ).
Kandungan
Energi
Faktor lain yang juga perlu
diperhatikan adalah kandungan energi atau kalori dari makanan dan minuman yang
kita konsumsi. Menurut National Labelling and Education Act ( NLEA ) dari Codex
Alimentarius, bahan makanan atau minuman yang disebutberenergi tinggi jika
kandungan energi minimum 300 kkal per takaran saji. Makanan dengan energi
kurang atau sama dengan 40 kkal per takaran saji dikategorikan sebagai makanan
tanpa energi. Sebgai contoh satu kaleng coca-cola ( 250 ml ) yang mengandung
100 kkal, sesuai dengan ketentuan NLEA, tidak termasuk makanan berenergi tinggi
karna kandungan energinya kurang dari 300 kkal per takaran saji.
Bergerak
untuk membakar kalori
Orang sering melupakan aktivitas
tubuh untuk membakar kalori. Itulah sebabnya ketika berjalan di treadmil atau
olahraga di atas sepeda statis, aktivitas sering kali dihitung dari beberapa
banyak kalori yang terbakar. Akhirnya, kita dapat menikmati makanan dan minuman
favorit selama didukung dengan kombinasi yang seimbang, wajar dan dilengkapi
dengan aktivitas fisik yang cukup. Inilah inti dari penerapan gaya hidup yang
aktif dan sehat.
Prof.Dr.Ir.Made
Astawan MS
Pakar
Teknologi Pangan

0 komentar:
Posting Komentar